Little Feet

Take steps, take actions.
-Talisa Noor-

Tuesday, November 8, 2016

Being a Mother

Being a mother is a really new experience. It's frustrating but amazing at the same time. Alhamdulillah. Sungguh. Dititipi Allah anak yang manis dan insyaallah sholeh. Semoga :')

Maaf ya nak, mama dan papa belum menjadi orang tua yang sempurna. Tapi kami akan selalu berusaha memperbaiki diri, dan berusaha untuk menjadi orang yang lebih sabar dan telaten, dan selalu perhatian.

Love love love!


Friday, January 1, 2016

Muhasabah Awal Tahun

Akhirnya, hari ini kita sudah memasuki pergantian tahun. Kalender lama pun sudah kadaluarsa, berganti dengan kalender 2016 :)
Anyway, nggak ada salahnya kita coba introspeksi diri. Selama tahun 2015, sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik?

Buat saya, yang jelas, 2015 adalah tahun penuh syukur sekaligus tahun yang sangat fluktuatif secara emosional. 
Menikah
Pada tahun tersebut, saya menikah, kemudian menjalani hubungan jarak jauh. Jadwal bertemu adalah 2 minggu sekali. Terus terang, rasanya melelahkan setengah mati. 2 minggu saya ke Jakarta, dan 2 minggu kemudian suami saya ke Malang, begitu seterusnya. 
Kuliah
Cukup sulit juga sebenarnya untuk menyesuaikan dengan jadwal dan tugas kuliah yang menyita waktu dan tenaga. Terkadang saya harus izin tidak masuk kuliah karena jadwal penerbangan yang mepet, atau karena sakit. Saya pasrah, apapun hasil kuliahnya saya terima. Alhamdulillah, malah ternyata saya mendapatkan nilai A untuk semua mata kuliah yang saya tempuh waktu itu.
Kos-kosan
Petualangan saya kemudian berlanjut ketika saya mendampingi suami di Jakarta selama 2 bulan masa liburan kuliah saya. Suami pindah ke Bintaro untuk mencari kos-kosan suami istri dengan harga terjangkau, sekaligus sebagai sarana latihan naik KRL ke kantor, karena kami sedang dalam proses membeli rumah di daerah Serpong yang cukup jauh dan harus menempuh perjalanan ke kantor dengan KRL setiap hari. Buat saya yang princess begini, kos-kosan tersebut adalah cobaan hidup. Kamarnya panas. Kipas angin yang kami beli juga tidak mempan untuk menghalau suhu yang panas tersebut. Kemudian, akhirnya suami saya memutuskan pindah ke kamar yang ada AC-nya. Ternyata keadaannya tidak lebih baik. Kamarnya pengap sekali. Saya dan suami malah jadi sering batuk-batuk karena sirkulasi udara yang kurang sehat.
Hamil
Pada saat lebaran, kami mudik ke Bandung lalu ke Surabaya. (Hehe, seperti lagu "Naik Kereta Api" ya). Pada saat itu memang seharusnya saya mens, tetapi nggak keluar juga. Tapi saya pikir, ah memang jadwal saya nggak teratur kok. Saya juga sudah sering "kecele" dengan jadwal mens yang tak kunjung tiba namun test pack menunjukkan hasil negatif. 
Tapi di Surabaya, ibu saya kekeuh menyuruh saya melakukan tes kehamilan. Akhirnya saya membeli test pack di K-24, yang merknya berbeda dengan yang biasa saya beli. Eh, ternyata test pack tersebut menunjukkan 2 garis merah muda. 2, bukan 1 seperti yang biasa saya lihat. 
Saya langsung menangis. Perasaan saya campur aduk, antara terharu dan takut. Terharu, karena saya akhirnya diberikan kesempatan oleh Allah untuk menjaga seorang anak di dalam kandungan saya. Takut, karena saya khawatir tidak bisa menjaga kandungan atau menjadi ibu yang baik bagi anak saya.
Pindah Kos dan Mual-mual
Karena saya hamil, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pindah kos ke tempat yang lebih dekat dengan kantor agar suami lebih mudah utnuk menjaga saya (dan calon bayinya). Kebetulan juga beberapa hari sebelum kami pindah, tiba-tiba kasur angin yang kami pakai di kosan Bintaro bocor! Di saat yang bersamaan, saya mulai merasakan pusing dan mual. Kami memutuskan untuk tetap bertahan menggunakan kasur itu (dengan menambalkan selotip di daerah yang bocor memompa kasurnya hampir setiap jam) karena tanggung, sebentar lagi juga akan pindah. 
Beberapa hari itu adalah hari-hari yang sangat menyiksa bagi saya. Pusing, namun tidak bisa istirahat dengan benar karena kasurnya mengempis. Ditambah lagi dengan kamar yang pengap. Akses makanan juga agak sulit bagi saya karena tidak ada warung yang benar-benar dekat dengan kos. Karena mual, saya juga sering tidak nafsu makan. Kadang saya hanya mau makan siang dengan sebutir apel, sedangkan nasi tidak saya sentuh sama sekali.
Keadaan mulai membaik setelah kami pindah kos ke belakang kantor. Namun, mual-mual saya makin parah. Saya juga sering mengalami spotting alias flek. Akhirnya, dokter menyuruh bed rest.
Ke Bandung
Setelah saya tidak mengalami flek lagi, kami berkunjung ke rumah mertua di Bandung. Sayangnya, sesampainya disana, saya malah mengalami flek lagi 2 hari berturut-turut dengan jumlah yang makin banyak. Akhirnya dokter kembali menyuruh saya bed rest total. Suami meninggalkan saya di Bandung karena kondisi saya yang tidak memungkinkan untuk menempuh perjalanan kembali ke Jakarta. Perut saya sakit dan saya sering muntah. Selera makan saya juga menurun drastis. Emosi saya juga naik turun. Saya sering menangis tanpa sebab. Well, mungkin karena saya takut kehilangan bayi saya.
Saya Kembali ke Malang, Suami ke UK
Akhirnya masa liburan saya habis. Saya kembali ke Malang dengan kondisi yang lebih sehat. Sayangnya, saya masih mual-mual. Bahkan saya tidak suka dengan bau suami saya. 
Yang menyedihkan bagi saya, suami harus berangkat ke UK untuk studinya. Kali ini, hubungan jarak jauh kami semakin jauh. Kami tidak bisa lagi bertemu setiap 2 minggu, karena tentunya tiket pulang pergi UK-Indonesia sangat mahal. 
Kuliah Lagi
Kembali kuliah lagi di semester 3, kali ini berbadan dua. Tantangannya berbeda lagi. Syukurlah, ibu saya mendampingi saya terus selama di Malang. Sehingga makanan dan transportasi sangat terjamin, hehe. Berat badan saya bahkan bertambah terus.
Alhamdulillah terkadang saya mengalami pusing, meskipun mualnya sudah mulai menghilang. Saya juga mulai mengalami sakit pinggang, sakit punggung, kaki pegal, dan terkadang sesak napas. Hal ini juga terkadang membuat saya menangis karena saya sangat menginginkan kehadiran suami untuk mendukung saya pada masa-masa sulit seperti ini. Namun saya sangat bersyukur, Allah menyehatkan bayi di dalam kandungan saya, dan memudahkan saya dalam menjalani kuliah karena ada ibu saya yang mendampingi dan menyediakan semua kebutuhan saya mulai dari makanan, pakaian, dan transportasi ke kampus.

Lah. Kenapa tulisan saya jadi panjang yak. Haha.

Berpisah jarak dengan suami adalah hal yang sangat berat, terlebih ketika hamil. Itu memang cobaan bagi kami. Tetapi, masih banyak hal lain yang patut kami syukuri. Like, how many people have the chance to scholarship in UK? How many people get full scholarship in Malang? Kami juga masih digaji, dan diberikan uang saku kuliah. Sementara, di luar sana masih banyak orang yang makan saja masih susah, apalagi sekolah. Banyak orang yang mendambakan anak, tetapi belum  juga dikaruniai oleh Allah. Banyak juga orang yang belum memiliki rumah sendiri. 
Ah. Saya kadang malu untuk mengadu pada Tuhan, saking banyaknya nikmat yang Ia berikan. Saya berharap kami diberikan kekuatan untuk selalu kuat dalam menjalani cobaan-Nya dengan hati lapang dan selalu bersyukur.

InsyaAllah tahun ini (2016) anak pertama kami akan lahir. Semoga Allah selalu melindunginya dan melancarkan proses persalinannya agar kami berdua, ibu dan anaknya, sehat walafiat tidak kekurangan suatu apapun. :)

Saturday, November 7, 2015

Being Grateful

I miss blogging a lot. Haha. I know I often write this on my blog. But I can't help it. I always forget to update this published-personal page, and when I do, there's always a large time gap between each post :)

I feel like my life is a journey that always has different challenge each year.
This year, I started my challenge with a vow.
A marriage vow. It was in February.

Being someone's wife is not that scary. Yes, it's different with being single. Yet, it's very fulfilling and blissful.

The challenge is, we had a long distance relationship. Then, we decided to meet every 2 weeks. It felt very long, yet at the same time it's very exhausting. I had to go to Jakarta every month, and he had to go to Malang too every month. It's still exhausting even when he went to my place. Well, maybe because I had a lot of homework from my college. I felt I was lack of sleep and lack of "me-time". I even seldom go to my parents' house in Sidoarjo after marriage.

But I love him. And that's my source of strength.

The next challenge started after I finished the first semester of the year in college.

I got pregnant.

This. Is. Big.

Being a wife, especially a long-distanced one, is not very difficult. But being a mother? I felt dizzy and panic at first. Well, when I got married, I know it is possible to get pregnant and then be a mother. Yet, a dozen of negative test packs successfully took down my alarm. I was getting used to it. And after several months, I never expected it's going to show a positive result.

Especially, when my husband was going to go abroad.

I was scared, but actually happy at the same time. I just felt that I was still not good enough, not knowledgeable enough, to be a mother. And I was scared to imagine how I would carry this baby bump when my husband was not going to be around me.

It made me stressed and I got bleeding several times. I know it wasn't good for my baby, so I try to get rid of those negative thinking. My husband and his family supported me. My family supported me too, even mom came to Malang to help me.

Now, it's been 5 months. I live a good life here, with my mom staying with me in Malang, and my husband living far away in UK. It's not that scary anymore. I even enjoy it a lot. (Maybe because the morning sickness period has gone? Or maybe because I get to eat my mom's food everyday? Kekeke)

Even though my husband lives far away, I'm not worried. We realize that now each of us are in a studying duty, to gain the knowledge we hope will bring goodness to our mankind. We love and trust each other, and we hope Allah will count this as our way to worship Him, and may Allah always bless us.

I grow to love my baby-to-be more and more each day. This feeling is amazing. Bismillah, I hope everything is going to be well, and my baby can grow healthy and happy.

This semester is my last semester to attend the classes. Next year, I'm going to solely have my undergraduate thesis, for which I can stay at home while taking care of my baby. Insha Allah :)

Hopefully, my husband can make it to go here when I give birth to our first child next year. :*

Thursday, July 9, 2015

My 2nd semester result

Alhamdulillah, another bless from Allah.
This semester result is quite good. I got straight A's. Got it with blood and tears *lebay, haha.

Write this in 30 minutes.

I already had blogger app to help me writing constantly to this blog, yet I barely touch it. Kekeke.

Anyway...

It's another night, a few minutes before tomorrow. What's the day? It keeps passing just like that. Sometimes I wonder what my life purpose is. I'm bored. Many things in life don't seem really interesting to me lately. Maybe I need new challenge, yet my old challenges seem to be unsolved yet. Or maybe I have another issue.

Sometimes I feel anxious and nervous. I keep worrying but I don't know what exactly I'm worrying about.

However, it's not like I'm not happy at all. It's just... a thing that sometimes cross my mind. I tend to overthink and not enjoy things as they are. I need to give some 'meaning' to my every action and experience in order to enjoy it. Yet, thinking and giving those meanings makes me exhausted slowly. Then I gave up. I just walk my life without thinking, but that makes me feel meaningless. So yes. For me, it's either being exhausted or feeling meaningless. (I have a complicated mind, which actually can be more simple, right?)

Actually after getting married, I feel better. Alhamdulillah, my husband is a really loving person. Unlike me, he doesn't overthink. He is a happy person and I love to be around him. I learn slowly how to enjoy things as they are. Slowly.

Maybe I just need some time.

Oh. And I see one more thing that could be my source of anxiousness: I am a person of target. Sometimes I burden myself too much for targets that are too hard to achieve, and I end up do nothing about them. I should try not to burden myself with unrealistic targets. Or maybe I just have to fulfill those targets to be happy. Kekeke.

So this is me blabbering about my life. I wonder if many persons in this world are, or had ever, feeling the same emptiness like me.

Back then in 2009, I also had the same issue. But I was able to overcome it by reading some good motivation books. Now, those books and motivating words are like boring things for me. They don't have the same effect. Maybe I should try to read new books, like romantic fiction, or comedy. Books that don't tell me what to do, but show me what the characters do with their life problems, and entertaining at the same time. :))

Friday, May 29, 2015

Hi

Hi all. I'm trying to post from blogger android app ;) Does it work well?

Okay let me try the hyperlink:
talisanoor.wordpress.com

Btw this is my picture from my friend's wedding. Cute car number, isn't it?

Thursday, May 28, 2015

Hewan Ternak

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)


*sebuah teguran yang lembut untuk saya dan pengingat untuk yang mau diingatkan*

Terkadang saya iri dengan orang yang bisa woles aja ketika dizalimi atau melihat ketidakadilan. How could they do that? Doesn't it raise their anger?

Semester ini saya sering dikasih tugas seorang dosen, kemudian saya udah ngerjain tugasnya, ada yg sampe nggak tidur semaleman (tugas mata kuliah lain juga banyak, jadi waktunya harus dibagi dong). Eh ternyata tugasnya ga jadi dikumpulin karena mayoritas murid di kelas ga ngerjain tugasnya. Bukan sekali hal itu terjadi. Valid ga tuh pembatalan tugas karena mayoritas orang yang disuruh ga mau ngerjain?

Kenapa demikian? Karena dosen tersebut  sering lupa dengan tugas yang sudah diberikan, sehingga tidak dikumpulkan. Siapa sih yang mau ngerjain tugas tapi nggak dikumpulin? Nah, dari situ, rekan-rekan satu kelas saya mulai ada memboikot tugasnya dan mempersuasi teman2 sekelas untuk tidak mengerjakan tugasnya. Lah, trus, saya yang udah ngerjain ini gimana?

Mereka juga aneh. Masa memboikot tugas beberapa jam sebelum kuliah? Berarti mereka memang belum mengerjakan padahal jam kuliahnya tinggal beberapa jam lagi di hari yang sama.

Kalo gitu, kapan dong negara ini maju? Mulai dari bangku pendidikan aja udah nggak disiplin gitu. Gimana nanti mereka meneruskan bangsa ini?

Sama aja kayak lalu lintas yang kacau di kota ini. Sepeda motor yang jalan melawan arus dibiarkan saja; lampu lalu lintas diterabas aja padahal belum ijo; mobil dan angkot tetep nekat jalan padahal lampu lalu lintasnya uda merah. Kenapa? Karena semua orang melakukannya. Nggak heran kalo macet dimana-mana. (fyi, I'm not talking about Jakarta now)

Saya heran juga dengan dosennya. Apakah beliau nggak sadar, beliau itu pendidik? Pendidik itu bukan sekadar mengajar aja lho, tapi juga memberikan teladan dan mengajarkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi, seperti disiplin dan integritas. Menurut saya, dosennya juga ikut bertanggung jawab menjadikan mahasiswanya seperti itu.

Saya cuma nggak habis pikir. Yang membuat saya kesal adalah:
1. Saya merasa kerja keras saya sia-sia.
Seharusnya waktu yang dipergunakan untuk mengerjakan tugas tersebut bisa saya gunakan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Atau paling tidak, seharusnya saya bisa tidur, supaya tidak sakit :(
2. Sistem pendidikan oleh dosen tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan jelek pada mahasiswa, membuat mereka semakin tidak disiplin, dan saya khawatir itu akan berdampak buruk bagi negeri ini.
Oke, beberapa orang mungkin berpikir itu lebay. Ngapain sih mikirin masalah negara?
TAPI kalo bukan kita yang mikirin negara ini, trus siapa lagi? Kalau semua orang berpikir demikian, negara kita nggak terurus dong.

Kekecewaan saya terhadap Universitas Brawijaya bertambah lagi, untuk kesekian kalinya.

Somehow saya agak salut dengan kawan-kawan yang tidak mengeluhkan hal ini. Ada yang bilang ke saya, jangan menetapkan standar terlalu tinggi, dan jangan menjadi perfeksionis.

Okelah. Saya setuju bahwa setiap orang berhak memilih cara hidupnya masing-masing. Kalau mereka memilih untuk malas, silakan. Sebagai sesama mahasiswa, saya nggak bisa mengatur mereka.

Tapi saya nggak mau kehilangan idealisme saya. Buat apa saya hidup kayak hewan ternak yang selalu mengikuti hewan ternak lainnya?