Little Feet

Take steps, take actions.
-Talisa Noor-

Thursday, March 12, 2009

This is not what I expected

65.

69.

They were not what I expected. I could have been better, actually.


Well, people make mistakes, so do I. People get failure sometimes, so do I. (Even Abraham Lincoln failed very often before he became US president...) I hope I can be better this time. Yes, I'm sure I can...
So can you, guys. Cheer up! :)

Enjoying an Afternoon With SEC's Conversation Club

Yesterday afternoon I got along with these incredible guys (in the making):


FYI, SEC is STAN English Club, an English club in my campus. They have a slogan, if I'm not mistaken: "We don't teach you English, we improve your English"
Well, one of their action to improve our--STAN students-- English is holding this conversation club. We are free to talk and share opinion, in English. No pressure to speak English perfectly. At least, you can talk. It's the first step to be more fluent and confident in speaking English, rite? :)
Btw, I really want to be able to speak and write in English fluently. It is very helpful to connect globally. Hihi. We can learn more. Many resources of knowledge (ex: books, articles, presentation slides) are presented in English. Also, we can share the opinion, knowledge, and culture from other persons abroad.
Writing in this blog in English is also one of my project to improve it. I'm sorry if there are still many mistakes in my writing, guys... I'm still learning :)

next project: learn terms and vocabulary used very often in politics and economics.

Yes, you can!



PS: We--SEC conversation club members and I-- also took some pictures of ourselves. Hehe. I can't upload them right now, but I promise they will be uploaded soon :D
These are I got from Reportase Pagi, a news program in Trans TV, this morning:

1. An old man committing suicide because he could not stand his throat's accute illness any longer.
2. A policeman shot his own head bacause he suffered a liver disease.

OhmaiGod... What did they think before committing suicide? Were there sooo many problems in life thet they can't handle, or were they actually killed--not committing suicide--? If the main reason of their action is option 1, I think they shouldn't have done that. Don't let the problem stressed you out. I believe there's always a good side behind a bad event. God is challenging us to make us a stronger human being. If you're committing suicide, it means that you are giving up, you are running from your resposibility. No, don't do that. Suicide don't solve anything. Besides, how are their family? They left their family alone, suffering because of their death. That's why, always think positive, guys. If you have some problem you can't solve by yourself alone, ask someone for a help, unless you want to end up like two men I've told you before... (naudzubillah)

Anyway, this is the third news:
3. 7,000 Broken paper of General Election 2009 are burned.
Geez, how many trees are suffered and thrown and become useless because of some major mistakes in printing and packing those paper? That's a pity x( We can learn something from this, anyway: when we do our project, do it carefully and don't get too hurry. How can we not get in a hurry? The answer is in the good preparation. For this kind of serious project, make sure we are well prepared, long-time before the D-Day.

Hoho. That's all. I want to go to college now. Have a nice day! Ciao!

Tuesday, March 10, 2009

Inspiring One ;)

A few hours ago, I blog-walked around and found a blog belonged to a 17-year-old girl. Her name is Tika Putri, who is becoming the ambassador of Sunsilk Queen Bee Hunt.
First thing I thought when I looked this blog: "lovely" :)
Then, I continued reading some of her posts, and started saying "Wow!".
She tells anything in her blog: her opinion about health, environment, politics, fashion, culture, celebrities, etc. I admire her way to write all of her ideas and experience. Very smart. Very understandable. Very inspiring. Look at one of her statements about PEMILU below:
Kita tunjukin dong kalo voting is not ridiculous.

Voting is caring! ... Pilihan kita menentukan. Jika ada seratus ribu remaja yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan baik, it affects the election, of course. It affects the result. Buat apa ada PEMILU kalau begitu? Kalau kita hanya akan seperti sekarang, duduk di depan komputer dan tidak peduli, seharusnya PEMILU dihapus saja. Biarkan pejabat negara yang memilih siapa yang kira-kira bakal menjadi presiden yang hebat, atau minimal berwibawa. Apapun yang terjadi pada Indonesia, kita tinggal siapkan cat aerosol spray warna-warni, pergi ke kolong jembatan dan membuat graffiti paling keren sedunia dengan tulisan, “TURUNKAN SBY-JK!”

But, are you sure? Is that what you want? Kalau gue pribadi, gue mau negara ini menjadi lebih baik. Dan gue, akan selalu percaya, bahwa hal sekecil apapun bisa membuat perubahan. Percaya deh. I’ll go find my Ketua RT right away. Make sure my name’s on the list, Sir.

And, her opinion about smoking:
...Gue nggak mau menasehati macam orangtua atau guru, guru-guru gue aja ngerokok. Tapi, please, value your health. Mumpung masih muda. Daripada nyesel pas udah tua? Nanti kolesterol lah, gula, apalagi kanker. Amit-amit deh...

Remember, we’re the only ones who can take a good care of ourselves.


I guess I'm not exaggerating when I say she should be one of the teenage role models. Hihi. You go, girl!

Friday, March 6, 2009

Final exam is already close,guys!

Be ready! Happy studying for everyone! ;)

Tuesday, February 10, 2009

Mommy...It's an embarrassing story!

Malam ini, sebelum mulai casting di Teater Alir, saya bertemu dengan seorang pria berbaju hitam ketika saya sedang dalam perjalanan ke taman CD—tempat castingnya. Keadaan waktu itu memang gelap banget, tapi saya yakin binti percaya bahwa pria yang saya lihat itu adalah teman saya. Ciri-cirinya persis dimiliki teman saya—yang juga anggota teater alir, hanya dia terlihat sedikit lebih kurus. Karena udah lama nggak ketemu, saya ngerasa kangen banget dan ingin menyapa dia dengan ceria. Saya membentangkan tangan sambil berjalan ke arahnya (sok pingin meluk gitu deh), serta nggak lupa melemparkan senyum tiga jari saya yang norak. Hehe. Dia pun memandang saya dengan kaget kemudian tersenyum seprti bertemu teman yang sudah lama tak jumpa.
Setelah saya dekati dia, alamaaak... ternyata saya salah orang! Anjrit... malu gila!!!
Cowok itu nampak menahan senyum gak karuan melihat kelakuan aneh saya. Hiks. Sambil menanggung malu, saya pun berlalu dan langsung berlari ke arah teman-teman sesama anggota Alir. Teman saya, Didi, yang mengetahui kejadian itu, nggak henti-hentinya ngetawain saya.
Nah, nggak berapa lama kemudian, pertemuan Teater Alir pun dimulai. Kami duduk membentuk lingkaran. Saya melihat ada dua cowok yang berjalan ke arah kami. Rupanya mereka pendatang baru yang mau ikut casting Teater Alir. Kedua cowok itu memakai jaket hitam. Salah satu dari mereka adalah cowok yang saya kira teman saya tadi. Oke, anggaplah mereka adalah cowok A dan cowok B.
Cowok A terlihat masih menelepon, sementara cowok B datang dan bergabung dalam lingkaran kami. Cowok B duduk di sebelah saya. Kalo nggak salah, dia adalah orang yang saya kira teman saya tadi. Untuk mengklarifikasi kejadian memalukan itu, saya langsung bilang, “Eh, maaf ya yang tadi, saya salah orang. Saya kira kamu teman saya! Haha.”
Cowok itu cuma memandang saya bingung. Teman saya, Didi, pun langsung menyahut, “Bukan dia orangnya, Sa!!”
Alamaak... Duh Gusti, dudul bener saya, sampe salah orang 2x dalam semalam...!! x(

Wow, bikin iri!

Salah satu teman saya sesama anggota Teater Alir, Siska, adalah mahasiswa D-IV STAN. Kalo nggak salah, beliau 4 tahun lebih tua daripada saya. Perawakannya mungil, wajahnya imut, kulitnya putih.
Saya baru tahu, ternyata mbak Siska udah menikah.
Setelah casting Teater Alir usai, turun hujan deras. Makanya, kami nggak langsung pulang. Momen itu saya pergunakan untuk ngobrol dengan teman-teman, termasuk mbak Siska.
“Mbak, udah punya pacar?” tanya saya, iseng.
Mbak Siska menjawab dengan berbinar,”Wah, saya udah punya suami!”
Pembicaraan pun berlangsung seru. Saya, Didi, dan Erna berebut bertanya karena kami ingin tahu bagaimana rasanya menikah, apa bedanya dengan saat masih jomblo, kapan beliau menikah, apakah penempatan kerja bersamaan dengan suami, di mana penempatannya, bagaimana suasana daerah di sana, dan lain-lain.
Yang bikin saya terharu, mbak Siska menjawab begini ketika saya bertanya apa suka-duka menjalani pernikahan:
“Emm, nggak ada dukanya deh.” Jawabnya tersipu-sipu. Binar kebahagiaan terpancar di matanya. Aww...
Nggak lama kemudian, suami mbak Siska—yang juga mahasiswa D-IV—pun datang menjemputnya. Beliau membawakan istrinya jas hujan dan payung. Rumah mereka memang dekat dari kampus, jadi mereka pulang-pergi dengan berjalan kaki.
Mbak Siska pun pamit pulang. Ia berjalan di tengah hujan berdua dengan suaminya...
Huuw, so sweet...