Little Feet

Take steps, take actions.
-Talisa Noor-
Showing posts with label Universitas Brawijaya. Show all posts
Showing posts with label Universitas Brawijaya. Show all posts

Saturday, November 7, 2015

Being Grateful

I miss blogging a lot. Haha. I know I often write this on my blog. But I can't help it. I always forget to update this published-personal page, and when I do, there's always a large time gap between each post :)

I feel like my life is a journey that always has different challenge each year.
This year, I started my challenge with a vow.
A marriage vow. It was in February.

Being someone's wife is not that scary. Yes, it's different with being single. Yet, it's very fulfilling and blissful.

The challenge is, we had a long distance relationship. Then, we decided to meet every 2 weeks. It felt very long, yet at the same time it's very exhausting. I had to go to Jakarta every month, and he had to go to Malang too every month. It's still exhausting even when he went to my place. Well, maybe because I had a lot of homework from my college. I felt I was lack of sleep and lack of "me-time". I even seldom go to my parents' house in Sidoarjo after marriage.

But I love him. And that's my source of strength.

The next challenge started after I finished the first semester of the year in college.

I got pregnant.

This. Is. Big.

Being a wife, especially a long-distanced one, is not very difficult. But being a mother? I felt dizzy and panic at first. Well, when I got married, I know it is possible to get pregnant and then be a mother. Yet, a dozen of negative test packs successfully took down my alarm. I was getting used to it. And after several months, I never expected it's going to show a positive result.

Especially, when my husband was going to go abroad.

I was scared, but actually happy at the same time. I just felt that I was still not good enough, not knowledgeable enough, to be a mother. And I was scared to imagine how I would carry this baby bump when my husband was not going to be around me.

It made me stressed and I got bleeding several times. I know it wasn't good for my baby, so I try to get rid of those negative thinking. My husband and his family supported me. My family supported me too, even mom came to Malang to help me.

Now, it's been 5 months. I live a good life here, with my mom staying with me in Malang, and my husband living far away in UK. It's not that scary anymore. I even enjoy it a lot. (Maybe because the morning sickness period has gone? Or maybe because I get to eat my mom's food everyday? Kekeke)

Even though my husband lives far away, I'm not worried. We realize that now each of us are in a studying duty, to gain the knowledge we hope will bring goodness to our mankind. We love and trust each other, and we hope Allah will count this as our way to worship Him, and may Allah always bless us.

I grow to love my baby-to-be more and more each day. This feeling is amazing. Bismillah, I hope everything is going to be well, and my baby can grow healthy and happy.

This semester is my last semester to attend the classes. Next year, I'm going to solely have my undergraduate thesis, for which I can stay at home while taking care of my baby. Insha Allah :)

Hopefully, my husband can make it to go here when I give birth to our first child next year. :*

Thursday, May 28, 2015

Hewan Ternak

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)


*sebuah teguran yang lembut untuk saya dan pengingat untuk yang mau diingatkan*

Terkadang saya iri dengan orang yang bisa woles aja ketika dizalimi atau melihat ketidakadilan. How could they do that? Doesn't it raise their anger?

Semester ini saya sering dikasih tugas seorang dosen, kemudian saya udah ngerjain tugasnya, ada yg sampe nggak tidur semaleman (tugas mata kuliah lain juga banyak, jadi waktunya harus dibagi dong). Eh ternyata tugasnya ga jadi dikumpulin karena mayoritas murid di kelas ga ngerjain tugasnya. Bukan sekali hal itu terjadi. Valid ga tuh pembatalan tugas karena mayoritas orang yang disuruh ga mau ngerjain?

Kenapa demikian? Karena dosen tersebut  sering lupa dengan tugas yang sudah diberikan, sehingga tidak dikumpulkan. Siapa sih yang mau ngerjain tugas tapi nggak dikumpulin? Nah, dari situ, rekan-rekan satu kelas saya mulai ada memboikot tugasnya dan mempersuasi teman2 sekelas untuk tidak mengerjakan tugasnya. Lah, trus, saya yang udah ngerjain ini gimana?

Mereka juga aneh. Masa memboikot tugas beberapa jam sebelum kuliah? Berarti mereka memang belum mengerjakan padahal jam kuliahnya tinggal beberapa jam lagi di hari yang sama.

Kalo gitu, kapan dong negara ini maju? Mulai dari bangku pendidikan aja udah nggak disiplin gitu. Gimana nanti mereka meneruskan bangsa ini?

Sama aja kayak lalu lintas yang kacau di kota ini. Sepeda motor yang jalan melawan arus dibiarkan saja; lampu lalu lintas diterabas aja padahal belum ijo; mobil dan angkot tetep nekat jalan padahal lampu lalu lintasnya uda merah. Kenapa? Karena semua orang melakukannya. Nggak heran kalo macet dimana-mana. (fyi, I'm not talking about Jakarta now)

Saya heran juga dengan dosennya. Apakah beliau nggak sadar, beliau itu pendidik? Pendidik itu bukan sekadar mengajar aja lho, tapi juga memberikan teladan dan mengajarkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi, seperti disiplin dan integritas. Menurut saya, dosennya juga ikut bertanggung jawab menjadikan mahasiswanya seperti itu.

Saya cuma nggak habis pikir. Yang membuat saya kesal adalah:
1. Saya merasa kerja keras saya sia-sia.
Seharusnya waktu yang dipergunakan untuk mengerjakan tugas tersebut bisa saya gunakan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Atau paling tidak, seharusnya saya bisa tidur, supaya tidak sakit :(
2. Sistem pendidikan oleh dosen tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan jelek pada mahasiswa, membuat mereka semakin tidak disiplin, dan saya khawatir itu akan berdampak buruk bagi negeri ini.
Oke, beberapa orang mungkin berpikir itu lebay. Ngapain sih mikirin masalah negara?
TAPI kalo bukan kita yang mikirin negara ini, trus siapa lagi? Kalau semua orang berpikir demikian, negara kita nggak terurus dong.

Kekecewaan saya terhadap Universitas Brawijaya bertambah lagi, untuk kesekian kalinya.

Somehow saya agak salut dengan kawan-kawan yang tidak mengeluhkan hal ini. Ada yang bilang ke saya, jangan menetapkan standar terlalu tinggi, dan jangan menjadi perfeksionis.

Okelah. Saya setuju bahwa setiap orang berhak memilih cara hidupnya masing-masing. Kalau mereka memilih untuk malas, silakan. Sebagai sesama mahasiswa, saya nggak bisa mengatur mereka.

Tapi saya nggak mau kehilangan idealisme saya. Buat apa saya hidup kayak hewan ternak yang selalu mengikuti hewan ternak lainnya?