Little Feet

Take steps, take actions.
-Talisa Noor-
Showing posts with label just opinion. Show all posts
Showing posts with label just opinion. Show all posts

Thursday, May 28, 2015

Hewan Ternak

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)


*sebuah teguran yang lembut untuk saya dan pengingat untuk yang mau diingatkan*

Terkadang saya iri dengan orang yang bisa woles aja ketika dizalimi atau melihat ketidakadilan. How could they do that? Doesn't it raise their anger?

Semester ini saya sering dikasih tugas seorang dosen, kemudian saya udah ngerjain tugasnya, ada yg sampe nggak tidur semaleman (tugas mata kuliah lain juga banyak, jadi waktunya harus dibagi dong). Eh ternyata tugasnya ga jadi dikumpulin karena mayoritas murid di kelas ga ngerjain tugasnya. Bukan sekali hal itu terjadi. Valid ga tuh pembatalan tugas karena mayoritas orang yang disuruh ga mau ngerjain?

Kenapa demikian? Karena dosen tersebut  sering lupa dengan tugas yang sudah diberikan, sehingga tidak dikumpulkan. Siapa sih yang mau ngerjain tugas tapi nggak dikumpulin? Nah, dari situ, rekan-rekan satu kelas saya mulai ada memboikot tugasnya dan mempersuasi teman2 sekelas untuk tidak mengerjakan tugasnya. Lah, trus, saya yang udah ngerjain ini gimana?

Mereka juga aneh. Masa memboikot tugas beberapa jam sebelum kuliah? Berarti mereka memang belum mengerjakan padahal jam kuliahnya tinggal beberapa jam lagi di hari yang sama.

Kalo gitu, kapan dong negara ini maju? Mulai dari bangku pendidikan aja udah nggak disiplin gitu. Gimana nanti mereka meneruskan bangsa ini?

Sama aja kayak lalu lintas yang kacau di kota ini. Sepeda motor yang jalan melawan arus dibiarkan saja; lampu lalu lintas diterabas aja padahal belum ijo; mobil dan angkot tetep nekat jalan padahal lampu lalu lintasnya uda merah. Kenapa? Karena semua orang melakukannya. Nggak heran kalo macet dimana-mana. (fyi, I'm not talking about Jakarta now)

Saya heran juga dengan dosennya. Apakah beliau nggak sadar, beliau itu pendidik? Pendidik itu bukan sekadar mengajar aja lho, tapi juga memberikan teladan dan mengajarkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi, seperti disiplin dan integritas. Menurut saya, dosennya juga ikut bertanggung jawab menjadikan mahasiswanya seperti itu.

Saya cuma nggak habis pikir. Yang membuat saya kesal adalah:
1. Saya merasa kerja keras saya sia-sia.
Seharusnya waktu yang dipergunakan untuk mengerjakan tugas tersebut bisa saya gunakan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Atau paling tidak, seharusnya saya bisa tidur, supaya tidak sakit :(
2. Sistem pendidikan oleh dosen tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan jelek pada mahasiswa, membuat mereka semakin tidak disiplin, dan saya khawatir itu akan berdampak buruk bagi negeri ini.
Oke, beberapa orang mungkin berpikir itu lebay. Ngapain sih mikirin masalah negara?
TAPI kalo bukan kita yang mikirin negara ini, trus siapa lagi? Kalau semua orang berpikir demikian, negara kita nggak terurus dong.

Kekecewaan saya terhadap Universitas Brawijaya bertambah lagi, untuk kesekian kalinya.

Somehow saya agak salut dengan kawan-kawan yang tidak mengeluhkan hal ini. Ada yang bilang ke saya, jangan menetapkan standar terlalu tinggi, dan jangan menjadi perfeksionis.

Okelah. Saya setuju bahwa setiap orang berhak memilih cara hidupnya masing-masing. Kalau mereka memilih untuk malas, silakan. Sebagai sesama mahasiswa, saya nggak bisa mengatur mereka.

Tapi saya nggak mau kehilangan idealisme saya. Buat apa saya hidup kayak hewan ternak yang selalu mengikuti hewan ternak lainnya?

Monday, November 24, 2014

Rambling Thoughts 3

I guess everyone has their own ups and downs. Seeing my old posts in 2011 reminds me of how positive and spiritful I was. Well, not that I change much, but I should admit that something has changed. I think I somehow lost a little bit of my naive thoughts. The world for me now is darker and more bitter. I don't know since when I have this thought. But I guess I know why.

Maybe I just put too much expectation and not prepared myself for the worse. I thought I did prepare, but I repeatedly feel disappointed. I thought I could fulfill my standard, yet I have to accept that people, and myself, have limitation. I thought other reasonable people will have the same thought as me, but I was wrong.

Or maybe, back then in 2011, I just haven't seen the world wide enough. When some people were in a difficult situation, I thought it was not that hard to solve... Yet, my thought changed until I experienced it myself.

However, even though this accumulative experiences is not sweet, I'm happy to experience it. It opens my eyes wider and helps me get a more comprehensive view of life. (Even though it's still far from "comprehensive", hehe.) Hopefully, I could learn to become a more understanding and wiser person. :)


Friday, May 3, 2013

Islam Sehari-hari

Hari ini saya membaca buku komik yang saya beli beberapa hari lalu. Judulnya "Islam Sehari-hari", karya Vbi Djenggoten.

gambar dari sini

Buku ini tutur katanya cukup ringan, ceritanya menghibur, dan nasihat yang diberikan sangat mengena. Dalam buku ini, digambarkan kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari kita, mayoritas penduduk muslim, dan bagaimana beberapa hal tersebut, saking umumnya, tidak kita sadari telah melenceng dari ajaran Islam sebenarnya.



Menurut saya, buku ini enak dibaca oleh siapa saja, termasuk bagi yang nonmuslim. Bukan berarti apa-apa, hanya saja menurut saya buku ini memang ringan dan berisi hal-hal yang biasa kita sebut "universal values", nilai-nilai universal, seperti nilai-nilai tentang menjaga lisan dan tangan kita agar tidak mengganggu hak orang lain. Untuk hal-hal yang bersifat "khusus Islam" pun, seperti pandangan-pandangan Islam tentang aurat dan hubungan antara lelaki dengan wanita, digambarkan secara alamiah dalam buku ini, yang kalaupun kita tidak memiliki kepercayaan serupa, cukup membuat kita untuk paham dan memaklumi.

Salah satu babnya membahas hadits ini:
"Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah SAW, 'Siapakah orang muslim yang paling baik?' Beliau menjawab, 'Orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.'" (HR. Muslim)
Hal ini membuat saya terpana sejenak.
"Orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya."
Introspeksi yuk. Jangan-jangan saat mengendarai motor, kita ngebut dan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Jangan-jangan saat mengungkapkan pendapat, kata-kata kita menyakiti orang lain. Jangan-jangan saat kita merokok, asap yang kita keluarkan merampas hak orang lain untuk menghirup udara segar.

Seandainya umat muslim di negara ini mau mengamalkan hadits ini, bayangkan dunia sekitar kita yang bebas polusi kendaraan, bebas tawuran, tak ada berita mengenaskan tentang saudara-saudara kita yang menjadi korban dari mereka yang salah paham dengan makna jihad... (Oya, kata-kata barusan saya gubah dari buku ini loh.)

Anyway, saya pribadi merasa nyaman dengan buku ini karena penulis tidak memaksakan pemikirannya kepada pembaca. Selain itu, cara menyampaikan nasihat-nasihatnya sangat mengena dan nasihatnya terlihat mudah untuk diamalkan. I totally recommend this book :)

Saturday, November 17, 2012

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Pepatah jawa ini terngiang terus di telinga saya sedari pagi. "Cinta tumbuh karena terbiasa". Ah, masa iya? Saya tersenyum kecil. Mungkin saja, memang.

Saya melihat sosok sahabat saya yang sedang menyetrika pakaiannya. Dia dan kekasihnya, contoh witing tresno jalaran soko kulino itu. Lagi-lagi saya tersenyum. Teringat betapa dulu sahabat saya ini tidak mau menerima cinta si dia, namun kini justru ketergantungan setengah mati. Hehe. Hidup memang lucu.

Namun ada sesuatu yang menggelitik saya. Seberapa banyakkah orang yang terbiasa berada dalam hidup kita? Banyak. Dan saya tidak bisa tresno pada semuanya, tentu. Haha.

Menurut saya, lagi-lagi itu semua kembali ke takdir. Cinta itu tumbuh juga karena diizinkan oleh Allah. Kenapa harus jatuh cinta pada sosok X ketika kita juga terbiasa bersama dengan sosok Y dan Z? Kenapa tresno pada si A yang sudah lama tidak dijumpai ketimbang pada si B yang setiap hari ditemui di kantor? Kenapa I bisa luluh dengan usaha pedekate si J, ketika si K yang sudah didekati si L-yang-usahanya-sama-besarnya-dengan-J tidak juga tersentuh? Kenapa ada suami istri yang baru bertemu setelah dijodohkan bisa langgeng, kenapa juga suami istri yang sudah saling mengenal sejak TK bisa langgeng juga?

Hidup itu memang lucu. Subhanallah. Saya tersenyum lagi.

Anyway, cinta memang bisa tumbuh karena terbiasa. Terbiasa bersama, terbiasa berinteraksi, terbiasa nyaman dengan kehadirannya. Namun, memeliharanya adalah hal yang berbeda. Cinta, bagi saya, adalah hal yang memerlukan logika, realitas, dan kompromi untuk bisa tetap hidup.

Tapi, well, apa yang saya tau tentang cinta selain sedikit saja? Haha. Dasar gadis sok tau, saya.

Monday, July 9, 2012

I'm doing fine. You?

Hello, long time no see, huh? :)


Anyway I'm doing fine. Things have been quite surprising these days. One of them is, I got to move to another division in my office. Well, I can say that I am happy with it. Not that I'm not happy with my old division, I just simply like to experience new things and place and people. :)

 
me in my new office room^^

Recently I also found many interesting life lessons which I got from my own experience and from other people's experience. Thanks God for giving me these tests... All I can say is now I know that a test from God doesn't always makes you cry. It can be one which makes you feel so powerful and great. It also can be one that makes you feel so depressed and angry. The challenge are to keep calm and not to be too happy or too sad.

I also learned that we as humans always have mistakes and problems. Sometimes we just have to admit if we do something wrong instead of blaming people. Sometimes we just have to stop making excuse for all of the sad things happened in our life. And sometimes we just have to forgive.

“…dan bergegaslah kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di saat lapang dan susah (sempit) dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan yang berbuat kesalahan kepadanya dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali Imran 133 dan 134)

“Allah tidak akan menambah kemaafan seseorang, melainkan dengan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (Hadits riyawat Bukhari dan Muslim)

 I hope you guys are doing fine, too. Even better. :)

Thursday, April 12, 2012

Oil IS Renewable

I just found an interesting article about abiotic oil. Well, in summary, the theory that oil is non-renewable is faux. You may read it by yourself here: http://merahitam.com/minyak-bumi-dapat-diperbarui-bukan-dari-fosil.html
You can also google the keywords: "abiotic oil". Hehe. Lumayan buat bacaan.



Since I am not an expertise of science and oil, I can't judge which theory is true. But then, if oil is indeed can be renewed (with series of chemical reactions, naturally or synthetically), I hope government can consider the technology and any other stuff needed.

Monday, April 9, 2012

Demonstration: "Afterglow"

A demonstration in front of House of Representative building was over. And what's left? An unspeakable  pain, seeing the destruction perpetrated by people who claimed to "care" with the country.


Do they know how much it cost to rebuild these? Do they know that this renovation would use citizens' money?
Not to mention the cost for the armed force, the tear gas, and cost for people's fuel for the traffic jam the demonstrators made, and also cost of cleaning the garbage they litter during and after the demonstration...

(By the way, is this demonstration really necessary? A simple logic: Since elementary school we learned that fuel is non-renewable. The supply will be lesser and finally we'll be running out of fuel someday. We will face a huge oil price increasing someday when the oil supply is very very rare. How would we prepare for that? Why don't we try to use alternative energy or at least try to lessen our fuel consumption? And how would you expect that to happen if we still have a very cheap oil?)


Yeah. You're reading it right. "Sosialme" now.


Some citizens took picture in front of demonstration site. (Sorry for my bad picture quality)

I'm just tired of demonstration. People power? Oh well. It will be okay if it's really for something good. But this fuel price demonstration? I find it nonsense. Try to learn economics and you'll know why.

Monday, February 6, 2012

Highly Recommended

image from here

Do you ever wonder why some advertisement stick in your mind and some others don't? Or why do you remember some of the lectures and don't really remember the others?
Some ideas survive and some others die. Some ideas may always be remembered by people, but some others are easily forgotten. Do you want your idea to be the survived one?

"Made to Stick" identifies 6 characteristics of ideas which "stick":
1. Simple (makes people easily understand your idea)
2. Unexpected (makes people pay attention to your idea)
3. Concrete (makes people remember your idea)
4. Credible (makes people believe your idea)
5. Emotional (makes people care to your idea)
6. Stories (makes people act after getting your idea)

Both good and bad ideas can stick on people's mind. In my opinion, instead of the idea itself, what matters actually is the "package" --the way you deliver the ideas. 
By the way, I personally think that this book is like the "extension" of the "Influence People" part (on "How to Win Friends and Influence People"), with another point of view and techniques. Hehe. :)

Anyway, I also recommend this book to all government officers and academician. Happy reading! (after you buy or borrow the book, of course)

This is a mind map of Made to Stick. I got this from Google Image. 
Get the way of creating mind maps from www.my-mind-maps.com .

Thursday, February 2, 2012

Karena kita ada di sepatu yang berbeda...

... sehingga aku tak melihat apa yang kau lihat, dan kau tak melihat apa yang aku lihat.

Mungkin bumi terlalu luas, dan kita ada di puncak bukit, memandang ke arah yang berlawanan. 
Hamparan kebun di hadapanmu, pantai dan lautan luas di hadapanku.

Haha. Seandainya kita menyempatkan waktu untuk menoleh dan bertukar pandangan... Mungkin kita akan menyadari betapa indahnya pemandangan yang kita lihat. 

... Atau mungkin juga tidak.

Tetapi setidaknya, kita tahu bahwa dunia tidak sesempit pandangan kita saja.


image from here


Thursday, December 22, 2011

"Everything you do must bring more good than harm."


... is one of the life principles you can take. In ethics theory, you may find this principle called "Teleology". Whenever you face a situation that urges you to decide, just simply hold to this principle. If the consequences brings more good, just do it. If the consequences brings more harm, leave it. Of course, the consequences we're talking about here must be comprehensive. Don't only see yourself, but see also the impacts to another people.

The great thing about this principle is, it can be applied to every situation. It helps you to solve your life problem. It leaves less headache for you to think of a decision, especially when you face many problems at a time. You can make a better priority list. You can become a wiser person.

Things that you have to keep in mind is, make sure you evaluate every consequence as comprehensively as you can. Because, mistakes in finding the good and the harm can bring you to a wrong decision.


However, you know, the way each person thinks is different from one to another. Thus, their perspective of "good" and "harm" is different. To different people in a same situation, the decision they take can be different.
Take an example, if Ms. X gathers with friends and they offer her to drink alcohol and smoke, she won't do it. Because
1. alcohol and cigarette can poison your brain, liver, lungs, and other parts of the body.
2. For her, none of the alcohol or cigarette can make her happy. Even if yes, it's just for a short time. Compare to the damage they can create, the "happiness" is too little.
3. In her religion, drink alcohol is sinful. It can bring you to hell. And that's bad.
4. It can drive you to a bigger harm. Like, first, you want to taste cigarette. Then, after you satisfy your curiosity and feels that nothing bad happens, you try alcohol. After a sip or two, you think you're still fine. Then you try a glass, then maybe someday a bottle. Then you're drunk. Alcohol has the ability to make people not aware. It means, you couldn't think clearly when you're drunk. You could possibly do more inappropriate things like free sex. Which, it has the high risk of transferring sexual disease and having unwanted pregnancy.
So, because it brings more harm than good, Ms. X doesn't want to try alcohol nor cigarette.
... To other people in the same situation, there is possibility that they decide otherwise. Let's say to Ms. Y, alcohol and cigarette are the way to pursue her happiness and to calm her mind, the risk of health problem is small, religion doesn't matter because you still can't make sure if God/hell/heaven do exist or not, or you still can pray to God to forgive you later, the risk of bigger harm is manageable because you know you won't be too stupid to lose your consciousness. (But, really? If you think like that, please reconsider, dude. For your own's sake.)


Yep, so the same principle doesn't guarantee people to walk in the same path and make the same decision. So how to solve this?

Look, some people tend to ignore some aspects to justify their actions. Why? Because "the ego" and "subjectivity" play big part here. So just make sure to be objective in analyzing the impacts. Be honest to yourself.

In addition, if you see any different decision between you and another person, you have to understand that TRUTH is not only available in one version. Especially, when it comes to a personal value. Every person has their own perspectives. Just try to respect that other person's decision [as long as it doesn't significantly (or possibly to significantly) hurt other people].
Enjoy the differences, and it'll leave you less headache.

So, are you going to take this principle? It's highly recommended ;)
image from here

Tuesday, December 20, 2011

99 Cahaya di Langit Eropa


Alhamdulillah. Tamat sudah saya membaca buku ini. Buku karangan Hanum Rais (putri mantan Ketua MPR RI, Amien Rais) dan Rangga Almahendra ini menceritakan kisah perjalanan mereka menapak jejak Islam di Eropa. Gaya bahasanya sangat rapi dan mudah diresapi. Dan banyak hal mengejutkan--yang saya baru tahu--tentang sejarah Islam, particularly, di Eropa. Ketika membaca buku ini, saya merasa seperti sedang benar-benar ada di Eropa dan ikut mengalami kejadian yang dialami penulis. 

Ada cerita tentang seorang muslim Turki yang sangat menginspirasi. Dia mencoba menjadi "agen muslim yang baik", bukan dengan ceramah agama yang berbusa-busa, tapi dengan senyum dan keramah-tamahannya. Bahkan, ketika agamanya dijelek-jelekkan oleh pemuda Eropa, bukannya marah-marah, ia malah mentraktir mereka dan menawarkan pertemanan yang hangat. Hal ini mengingatkan kita, bahwa Islam mengajarkan kelembutan, bukan kekerasan seperti yang ditunjukkan orang-orang Arab jaman sekarang.

(Personally, menurut saya, semua agama juga mengajarkan hal yang sama. Yang membuatnya melenceng adalah manusia itu sendiri, yang memiliki hasrat tinggi untuk menang sediri dan ingin terlihat kuat.)

Dari segi budaya, novel ini turut membuka pandangan saya tentang peradaban Islam di benua di mana Islam menjadi minoritas. Highly recommended :)
(image from here)


Thursday, March 3, 2011

About Communication

Communication is indeed a bit complicated. We cannot expect someone to understand us without giving them understanding first.
But hey, what I regret is actually not the quality of communication itself, but about the INITIATIVE to communicate. I regret the fact that many people are so less initiative in communicating their thoughts, progresses, or wants... :(